Zaman semakin maju, kehidupan terus berkembang, masyarakat pun tumbuh membengkak laksana jamur di musim hujan. Sejalan dengan perluasan ekspansi spesies homo sapiens semakin banyak pula pemikiran-pemikiran yang muncul, dan seperti sudah hukum alam yang berlaku kebanyakan dari kita memang menjadi pengikut, follower pemikiran- pemikiran yang sudah ada. Nah dari sedemikian banyak pemikiran sebenarnya mana sih yang harus kita pilih, buat anak kan ga boleh salah pilih.. hehe
Sebentar, pasti ada yang bertanya apa yang dimaksud pemikiran-pemikiran itu? kok nggak jelas, tulisan gak jelas.. Hehe, sabar dulu sobat, memang kalu tidak dibatasi akan banyak penafsiran yang malah menjadikan tulisan ini makin bertele-tele ketidakjelasannya. Nah, oleh karena itu dikarenakan demikian saya batasi pemikiran-pemikiran ini pada partai politik di indonesia deh, kan lagi ramai sebentar lagi mau pemilu.
Oke langsung saja. Partai politik yang ada di indonesia amat sangat beragam macamnya. Nah, untuk membedah keberagaman itu kita perlu kembali ke titik awal. Apa sih partai politik itu? Kalau kata Prof Miriam Budiarjo partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang
anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang
sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan
politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan
kebijakan-kebijakan mereka . Nah disini kta temukan kata-kata kunci berupa orientasi, nilai-nilai, cita-cita, serta tujuan. Untuk makin jelasnya Coba kita kupas satu-satu yaa..
Orientasi secara singkatnya adalah kecenderungan, kalau dibahasakan buat parpol ya kecenderungan partai politik itu buat bergerak. Pandangan apa sih yang dipilih partai itu dalam menjalani kehidupan berpartai. Dasar memutuskan perkara dalam suatu pilihan. Bingung ya? hhe sama, gini deh gampangnya sama kaya manusia, kalau cowok normal orientasi seksualnya berarti suka cewek, gitu. Kalau ga normal? Tau sendiri deh.. hhe
Kemudian Nilai, bukan nilai ulangan ya, serius banget jadi keliatan masih sekolahan aja. Nilai yang dimaksud adalah konsep dalam hati tentang baik buruknya suatu hal. Bisa nggak sih gue ngelakuin gini, boleh nggak sih, nanti dimarahin lagi? galau deh.. hehe. Intinya jadi nilai tuh pedoman kalau parpol ya pedoman partai buat anggotanya dalam berperilaku atau bersikap.
Cita cita dan tujuan tuh hampir sama, dijadiin satu aja ya... Cita- cita dan tujuan partai itu dasar utama mengapa sebuah partai dibentuk. Kalau mau dicari partai perpartai keliatan beda-beda tapi sebenarnya intinya sama saja. Bagaimana partai itu bisa memperoleh kekuasaan dalam pemerintahan lewat kader-kadernya mulai dari strata bupati walikota hingga presiden maupun anggota dewan daerah hingga pusat.
Nah kekuasaan itu penting banget, mengapa? jawabannya ya apalagi kalau bukan keeksisan partai yang bersangkutan. Kembali ke pengertian awal partai adalah sekumpulan manusia yang berpikiran seragam gua memperoleh kekuasaan. Lagi apa juga gunanya punya cita-cita kalau jalan mengimplementasikan cita-cita itu tidak ada?
Indonesia sendiri menganut sistem demokrasi, bebas tapi bertanggungjawab dari rakyat untuk rakyat. Asal mampu dan memenuhi syarat siapapun boleh berpartisipasi. Bagus banget didengar ya, tapi dampaknya pada partai jadi melebar-lebar. Gampangnya syarat saja sudah membuat jumlah partai yang beredar tumpeh-tumpeh. Untung saja pemerintah punya kebijakan buat verifikasi ulang, jadilah yang banyak itu dipangkas. Secara nasional sendiri sampai sekarang partai yang boleh ikut PEMILU 2014 cuma 15 doang menurut situs kpu.go.id .Penasaran ga apa aja? manja banget, liat sendiri aja ya.. hhe
Nah dari kelima belas itu kalau dikerucutin ada tiga tipe partai menurut aliran. Bukan aliran sungai atau lahar loh, aliran yang dimaksud tuh aliran paham yang dianut. Ada 3 tipe aliran keagamaan, nasional, sama campuran.
Aliran keagamaan seperti PKS yang memperjuangkan islam sebagai agama mayoritas, nasional kaya partai incumben Partai Demokrat atau juga PDI dan GOLKAR, sementara kalau campuran tuh yang ada keagamaannya tapi ya nasionalis juga kaya PPP.
Ini nih yang sebenernya mau dibahas dari tadi. Perbedaan- perbadaan pemahaman ini sebenarnya bisa dibenarkan ga sih buat indonesia. mana yang lebih cocok. Sekali lagi biar ga salah pilih nih..
Bentar.. Sepakat ga nih kalau sukses itu terbukti, bukan hanya lewat kata-kata manis tapi ada hasilnya? Percaya kan. Nah kalau begitu kita gunakan indikator ini deh buat nyeleksi mana sih yang baik buat Indonesia. Mana yang cocok buat Indonesia kedepannya.
Kita kembalikan ke tiga tipe partai diatas. Keagamaan, nasional, dan campuran. kebetulan saja di Indonesia ada dua tipe yang selama ini pernah berkuasa. Tipe Nasional diwakili Presiden Soekarno lewat PNI, Soeharto lewat GOLKAR, Megawati lewat PDI, dan SBY lewat Partai Demokrat, juga ada Habibie sekadar lewat warisan dari Presiden Soeharto. Sementara dari golongan Nasional keagamaan dan Presiden nyentrik Gus Dur lewat PPP.
Masa Nasionalis berkuasa (dengan pengecualian presiden Soekarno yang anti barat) ternyata negara mengalami kemajuan pesat, puncaknya di jaman "Bapak Pembangunan" Presiden Soeharto. Banyak sekali fasilitas-fasilitas publik maupun gedung gedung besar bermunculan, maju, makmur, belum lagi swasembada. Tapi apa benar ini kemajuan? Selidik punya selidik kemajuan yang dicapai ternyata berasal dari utang, terasa sekali warisannya yang hingga kini sulit terbayang untuk dilunasi. Bagaimana tidak malah semakin hari semakin bertambah saja. Maka mulailah Indonesia menutup sementara tagihan hutang itu dengan melepas aset negara. Apa ini yang namanya kemajuan sementara derita berkepanjangan? Ini juga jadi bukti rezim nasionalis selanjutnya belum bisa menjawab pertanyaan ini.
Kemudian masa Campuran, memang cuma sebentar. Presiden nyentrik Gus Dur memegang tampuk kekuasaan kurang dari 2 tahun sebelum digantikan wakilnya Megawati. Namun dalam masa sebentar itu tetap ada yang bisa dihasilkan. Apa itu? Gus Dur yang seorang pluralis mencoba menata Indonesia yang lebih adil pada penduduknya, menghilangkan masalah diskriminasi ras, terutama ras Cina dan juga mengakui agama Konghucu. Kebijakan itu membaba nafas lega bagi kalangan minoritas. Sayang seribu sayang, langkahnya yang berani harus berhenti kala Gus Dur diturunkan secara paksa, sebelum selesai masa jabatan resminya.Tak ada gading yang tak retak banyak desas desus negatif termasuk skandal BulGate yang melatarbelakangi pemakzulan Gus Dur. Apa artinya ini?
Nah sekarang kembali ke diri kita deh. Udah pernah mencoba dan merasakan dampak paham nasional dan campuran berkuasa kan. Apa sudah merasa puas dengan keduanya? Kalu belum berarti ada yang salah dengan keduanya bukan?
Di zaman dahulu paham keagamaan pernah menampuk kesuksesan besar. Khususnya Islam dengan Kekhalifahannya. Pernah berkuasa ratusan tahun. bukan hanya dalam lingkup negara kecil seperti sekarang namun mencakup multinegara. Kesuksesan yang dirasakan juga meliputi berbagai bidang. Saat itu masyarakat maju lahir batin, pengetahuan dunia bergerak bersama pengetahuan akhirat. Klop. Hilangnya khalifah pun berkat konspirasi tingkat tinggi, bukan kesalahan sistem. Sistemnya sendiri terbukti berhasil. Nah, apa ini berarti tipe keagamaan adalah jawaban?
Memang sih ga baik coba-coba, tapi nyatanya bangsa ini udah mencoba kok.. hehe Gimana biar ga salah pilih lagi? Jadi apa simpulannya. Apa ini berarti sekarang saatnya bangsa Indonesia beri kesempatan bagi Tipe keagamaan berkuasa?
Pilih mana, Indonesia :)